Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Tuesday, August 11, 2020

Nostalgia Bersepeda

(Tulisan iseng tentang sepeda di bulan April, akhirnya diposting karena sepeda sekarang jadi tren yang gilaaa….)

Akhir-akhir ini, bersepeda menjadi aktivitas yang sedang naik pamor, setidaknya di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia. Komunitas pesepeda menjamur di banyak tempat, dengan berbagai tujuan dan aktivitasnya. Bersepeda telah bertransformasi tidak hanya sebagai sebuah kebutuhan dan hobi, tapi juga sebagai sebuah gaya dan gengsi. Gak heran, kalo di medsos banyak kita jumpai fenomena “latah bersepda”

Begitu juga dengan jenis sepeda yang dijual di pasaran saat ini, makin beragam jenis, bentuk dan kelasnya. Mulai dari yang harganya ratusan ribu hingga puluhan Juta, semua ada. Bahkan beberapa komunitas ada yang harga rata-rata sepeda anggotanya mencapai ratusan juta. Dalam salah satu video di chanel youtube Deddy Corbuzier misalnya, sempat diulas sepeda yang harganya mencapai hamper setengah milyar (440 juta). Mending beliin Avanza kalia ya, dapet 2 biji, bisa buat narik Gocar.

Padahal jaman kecil dulu, jaman SD (tahun 94-2000 to be precise) saya cuma tau sepeda itu ada 4 jenis: Sepeda laki (atau kita nyebutnya sepeda federal dan BMX), sepeda cewe (sepeda mini), sepeda orang tua (sepeda onthel), dan sepeda balap. Harganyapun kayanya ga ada yang nyampe 500 ribu. Bahkan sepeda pertamaku masih inget banget, dibeli dengan harga 30 ribu, sepeda jenis MTB atau kita menyebutnya sepeda “federal” (mesikpun mereknya bukan federal) merek: gazelle (yang kayaknya palsu), warna hijau, single speed (sepeda multispeed atau kita nyebutnya “operan” masih jadi barang mewah) yang saya pake buat ke sekolah dan main ke mana-mana, seringnya buat ke lapangan (main bola) dan mandi di sungai. Namun, sepeda itu akhirnya rusak dan terbengkalai, dan riwayatnya harus berakhir tragis, dijual  ke tukang loak kiloan waktu kelas 6 SD.

Friday, November 10, 2017

Bermimpi, Gratis Tapi Mahal

Source image: Google
Kata orang, bermimpilah sebanyak-banyaknya toh bermimpi itu ga bayar alias gratis. Tidak salah memang, akan tetapi ungkapan tersebut mungkin hanya pas ditujukan  untuk orang yang enggan bermimpi. Di sisi lain, bagi sebagian orang, ada kondisi dimana bermimpi bukan hanya masalah keengganan atau mau tidak mau, tapi karena memang tidak bisa/mampu bermimpi, yang menjadikan mimpi menjadi barang yang mahal, bahkan sangat mahal.

Orang juga sering bilang bermimpilah setinggi-tinginya, karena ga ada yang bisa membatasi. Tapi sepertinya tidak sesederhana itu. Untuk bermimpi, setidaknya orang perlu inspirasi dan di beberapa kondisi perlu keberanian dan dukungan. Kesemuanya itu tentunya ditentukan oleh lingkungan masing-masing. Mimpi orang yang hidup di desa mungkin beda dengan mimpi mereka yang hidup di kota, mimpi anak dari keluarga yang pas-pasan mungkin beda dengan mimpi dari anak keluarga berkecukupan, mimpi dari anak negara A mungkin beda dengan mimpi dari anak negara B, dan seterusnya.

Inspirasi dibentuk oleh wawasan/pengetahuan yang dimiliki seseorang atau dengan kata lain, apa yang ia impikan adalah apa yang ia ketahui atau dibatasi oleh wawaan yang ia miliki. Kita mungkin cukup familiar dengan program “kelas inspirasi” yang merupakan bagian dari Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) yang digagas oleh Pak Anies Baswedan (Sorry, bukan kampanye). Bagi yang belum pernah mendengar, secara ringkas program ini mengajak para profesional dari berbagai macam profesi dan latar belakang untuk mengajar selama satu hari di SD yang intinya menceritakan tentang profesi masing-masing. Ide dasarnya simpel, memberikan wawasan/pengetahuan seluas-luasnya pada anak-anak tentang berbagai profesi yang ada sehingga mereka mempunyai banyak pilihan untuk menentukan mimpi-mimpi mereka. Semakin kaya wawasan/pengetahuan seseorang, semakin beragam mimpi yang bisa ia ciptakan. Seberapa baik lingkungan menciptakan kondisi yang memungkinkan seseorang memperluas wawasan/pengetahuan menjadi faktor yang penting. Ini perkara yang kompleks dan tidak mudah, menyangkut masalah pendidikan, keluarga, sarana penunjang, kebiasaan, budaya dll.

Sunday, February 14, 2016

The Answer

15022015,
Hari yang kami pilih untuk menggenapkan separuh agama
Hari dimana untuk kali pertama, terucap kalimat “cinta” dari lisanya
“Izinkan saya menikah dengan laki-laki yang saya cintai”

Bukan kalimat yang  langsung ditujukan kepadaku memang, dan bukan pula kalimat yg ia buat sendiri, melainkan dituntun seorang penghulu. Tapi itu saja sudah lebih dari cukup, untuk membuatku gemetar sekujur badan.
Sempat merenung saat malam sebelum hari pernikahan, bahwa ternyata bisa sampai sejauh ini, bisa secepat ini, dan sebuah pertanyaan besar “entah bagimana jadinya hidup denganya nanti”

Satu tahun sudah kini
Pertanyaan besar itu kini berganti, “Entah bagaimana jadinya bila tidak hidup tidak denganya”

Orang yang akan hidup besamamu, bisa jadi bukan orang yang saat ini dicinta, bukan pula orang yg saat ini mencinta, melainkan dialah jodohmu yang tepat, yang terbaik, yang akan kamu cintai sampai akhir hayat.

Dan memang hanya Alloh-lah yang paling tau apa yang paling baik untuk kita kn?

Selalu akan ada jawaban dari pertanyaan mengapa upaya-upaya yang dilakukan sebelumnya selalu gagal, bahkan mungkin untuk hal yang sepertinya pasti akan berhasil.

for me, she is “the answer”

boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (QS. Al-Baqarah : 216)

I love you till jannah, sayang


Friday, May 22, 2015

Berhati-hati menerka maksud hati.


Image by google
Mengunggah foto-foto jalan jalan ke luar negeri, memakai barang-barang branded, aktivitas ibadah di medsos --> Pamer/ria
Jarang berbicara à --> tidak suka/benci

Pamer/ria, sombong, dan benci itu kaitanya dengan maksud hati. Saya rasa kurang bijak, bila Menerka maksud hati seseorang hanya dari tampilan luarnya, dari sepotong pernyataanya, dari statusnya, dari sedikit apa yang ditampilkanya. Bahkan meskipun apa yang terlihat itu sangat lah jelas terlihat. 

Karena urusan menerka maksud hati bukanlah perkara yang mudah, tidak serta merta seperti logika matematis: jika “X” maka “Y”. Sebaliknya, menerka maksud hati itu sangatlah sulit. Salah-salah kita menerka, kita bisa terjerumus kedalam sikap berburuk sangka (sû’uz-zhann), mengolok-olok (sukhriyyah), dan menggunjing (ghibah). 

Tuesday, May 19, 2015

Medsos dan Tabayyun


Image by google
Saat ini kita kita dihadapkan pada situasi dimana penggunaan media sosial (medos) sebegitu marak dan fenomenalnya. Dengan mudah, pada banyak tempat, dapat kita temui pengguna media sosial. Media sosial seolah telah menjadi candu, sekaligus tuntutan gaya hidup.
Melalui media sosial, dengan sangat mudah orang dapat berbagi informasi. Semua jenis informasi dari berbagai sumber dapat dengan mudah menyebar secara global, dan dalam waktu yang relatif singkat. Saking mudahnya, informasi yang tidak jelas sumber dan kebenaranya, dan permasalahan tertentu yang masih sepotong-sepotong dan tidak lengkappun dengan sangat mudah tersebar. Informasi tersebut jelas berpotensi menyesatkan dan menimbulkan fitnah oleh banyak pihak. 

Di sini lah pentingnya sikap untuk meneliti kebenaran sesuatu dan tidak tergesa-gesa  (Tabayyun). Setiap informasi yang diterima hendaknya perlu dicermati benar kebenaranya, agar tidak tersesat dan ikut menyesatkan. 

Friday, May 15, 2015

"INDAH"

Sampai dengan menjelang bulan ketiga pernikahan, masih saja terkadang merasa “jet lag” dengan kondisi saat ini, bahwa kenyataanya saya sudah menikah, bahwa saya sudah mempunyai istri, tinggal bersama dalam satu atap dengan perempuan yang statusnya adalah istri saya. Apa yang sudah dilewati, dan apa yg sedang dijalani saat ini memang “agak” di luar perkiraan, berbeda dengan gambaran yang pernah dibayangkan. Manusia memang Cuma bisa berencana kan?. Jadi mungkin wajar apabila perasaan tersebut terkadang masih muncul. Ini bukan soal keluhan, tapi justru sebaliknya.

Sedikit menengok kebelakang, sedari awal memang banyak teman/kerabat, termasuk kami sendiri yang sedikit tidak menyangka kl kami bisa menikah, lantaran latar belakang budaya dan asal daerah yang berbeda, tempat tingga yang berjauhan, serta sejarah pertemanan kami yang sangat singkat dan biasa-biasa saja. Dan pada saat memutuskan menikah pun sejujurnya saya masih belum begitu banyak mengenal istri saya, dan sepertinya begitu juga sebaliknya.

Friday, October 17, 2014

Prioritas?

Dalam KBBI, kata “Penting” (Important) didefinisikan sebagai “hal utama, sangat berharga (berguna), atau mempunyai posisi yg menentukan”.  Dalam kehidupan sehari-hari, biasanya sesuatu akan dianggap “lebih penting” dari pada yang lain apabila sesuatu tersebut lebih diutamakan, lebih didahulukan, atau lebih mendapat banyak perhatian. sebaliknya, sesuatu akan dianggap kurang penting apabila kurang diutamakan, tidak didahulukan, atau kurang mendapat perhatian. 

Orang juga banyak saling menukar artikan pengertian antara istilah “lebih prioritas” dan “lebih penting” sehingga istilah “lebih penting” memiliki kesamaan arti dengan“lebih prioritas”.

Orang sering lupa kalau “Prioritas” tidak hanya berhubungan dengan derajat “kepentingan”, tapi juga berhubungan dengan tingkat “Keterdesakan” (urgensi). Sesuatu dengan tingkat kepentingan yang sama, namun mempunyai tingkat keterdesakan yang lebih tinggi sudah tentu harus didahulukan

(Eisenhower Quadran)

Jadi, kalau ada orang yang merasa dirinya tidak diprioritaskan karena dicuekin, tidak diutamakan, tidak diperhatikan bukan berarti dia tidak penting. Bisa jadi sebenarnya penting, namun kurang mendesak atau ada hal penting lain yang lebih mendesak. (Iya gitu kali^^)

Wednesday, September 24, 2014

Saling menguatkan

Alangkah indahnya jika kita bisa saling menguatkan.
Kita, yang berdiri dengan alas keegoisan dan gengsi masing-masing, kita yang mungkin bertolak belakang, dengan keakuanku, dengan kekamuanmu, dapat memapah yang lain disaat salah satu tertatih, atau saling bepegangan untuk bersama-sama bangkit jika sama-sama terjatuh.

Tujuan bersama yang kita punya, yang kita tau penuh liku dan kerikil, bisa jadi hanya bisa dicapai bila kita saling menguatkan. tak cukup hanya aku, tak cukup hanya kamu saja yang berjuang.
Ada kalanya kesedihan tidak bisa diungkapkan, ada kalanya kegundahan tidak bisa diutarakan. Kita, seharusnya bisa lebih memahami. Tidak muluk, segelas teh hangat atau sepotong roti, sudahlah cukup. 

"Meski yang menghubungkanku dengan seseorang hanya seutas benang, akan kujaga. Jika dia ulurkan, akan kukencangkan . Jika ia kencangkan, akan ku kendurkan. hingga benang itu tidak pernah terputus" (Mu'awiyyah Ibnu Sufyan)


Tuesday, September 23, 2014

Allah mengetahui, sedangkan kita tidak

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ( 2:216) 

Lalu, apa yang saat ini sedang aku perjuangkan?
Tentunya, sesuatu yang baik menurut penilaianku, menurut pertimbanganku, menurut pengetahuan dan pemahamanku, dengan segala keterbatasanya. Karena pada dasarnya kita tidak tahu yang mana sesuatu yang baik bagi kita, sampai Alloh menunjukan jawaban. Allah mengetahui, sedangkan kita tidak.

Maka yang saat ini bisa aku lakukan adalah memperjuangkan, tetap memperjuangkan, dan akan terus memperjuangkan sesuatu yang menurutku baik itu dengan segenap daya upaya sampai Alloh menunjukan jawaban, sembari tetap berkhusnudzon bahwa apapun jawabaNya nanti memang itulah yang terbaik.

-di dalam becak yang melaju, pada suatu kota yang jauh-

Friday, May 30, 2014

Self Defeating Behaviour



Adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang berada pada situasi dimana Ujian Akhir Semester (UAS) dan penyampaian proposal penelitian kian mendekatinya. Idealnya, dalam situasi tersebut si mahasiswa seharusnya membuat persiapan menghadapi UAS dan banyak mencari dan membaca jurnal untuk memperkaya literarur review agar dapat menuyusun proposal penelitian dengan baik. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Si mahasiswa malah banyak menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak penting dan bermalas-malasan. Beberapa kali ia sengaja bolos dari kuliah dan lebih memilih tidur-tiduran di kosan dengan dalih capek dan agak kurang sehat.

Si mahasiswa bukanya tidak sadar akan situasi yang sedang dihadapinya, bukanya tidak tau akan konsekuensi tindakanya. Ia sadar dan tau bahwa tindakan seperti itu akan membawanya pada masalah. Tidak  bisa mengerjakan UAS, IP jeblok, penelitian akhir berantakan, masalah yang tidak bisa dianggap biasa saja. Ia sadar betul, ia paham betul, akan tetapi tindakan seperti itu masih tetap dilakukanya.
(Nama asli mahasiswa sengaja tidak disebut^^)

Contoh kasus tersebut bisa jadi merupakan gejala penyakit psikologis yang disebut “Self Defeating Behaviour”. “Self Defeating Behaviour” secara sederhana dapat diartikan sebagai tindakan sengaja yang dilakukan seseorang yang justru akan menghalangi atau merusak dirinya sendiri.

Saturday, September 7, 2013

I Care I Share for Indonesia


Selasa, 2 September 2013
STAN-Bintaro 
        
          Menjelang waktu maghrib, segera setelah acara selesai aku bergegas menuju tempat yang sebenernya sudah dari pagi pengen aku tuju.....” Warung Makan”. Pagi ga sempet sarapan karena secara mendadak harus ke kampus lebih pagi gara-gara ruangan kuliah harus pindah, siang sibuk preparing acara kelompok, sore baru selesai acara kelompok dan baru sempet makan. Bahagia rasanya ketika akhirnya bisa menyuapkan sendok demi sendok nasi ke dalam mulut, terharu -___-. Emang sih ga sampe bikin nangis bahagia, tapi serius! makanan yang dimakan  waktu itu jadi salah satu makanan yang rasanya paling enak yang pernah aku makan. Mungkin karena tambahan bumbu rasa lapar (pake banget) dan rasa bahagia karena dengan segala kendala dan hambatanya acara yang sempat beberapa kali tertunda itu akhirnya bisa terlaksana.


Acara bertajuk “I Care I Share” for Indonesia

Wednesday, September 4, 2013

Rindu “Menjual Diri”



Kadang-kadang, saya suka Amaze sendiri dengan tindakan-tindakan yang pernah saya lakukan dulu, suka heran dan kadang sampai geleng-geleng. Adalah suatu masa ketika diri ini dengan begitu berani “menjual diri”. Bukan dalam arti konotasi negatif tentunya. 
 Catat saja ketika dulu ingin bergabung menjadi salah satu staf pada sebuah organisasi remaja di kampung, staf kehumasan. Dalam CV yang saya buat waktu itu dengan sangat rinci dan jelas saya cantumkan segala kelebihan, kekurangan termasuk sarana yang saya miliki yang sekiranya berhubungan dengan tugas staf kehumasan. Hal-hal kecil seperti “memiliki sepeda”, “tidak memiliki masalah kesehatan”, “mengenal banyak jalan” dan semacamnya juga dengan PeDenya tak luput disebutkan. 
Atau ketika secara megejutkan ditunjuk untuk menjalankan tugas memimpin sebuah bidang di organisasi yang disebut sebelumya. Pada saat rapat serah terima jabatan saya tidak malu-malu menawarkan kepada audience sebuah value yang ingin saya berikan pada bidang yang saya pimpin nantinya (meskipun merasa terpaksa pada awalnya).

Monday, March 4, 2013